• Home
  • Contact
    • Google+
    • Location
    • Facebook
    • Twitter
  • Archive for April 2014

    Menyesal Kutolak Lamaran Laki-Laki Shalih Itu

    ►

    Kumulai kisah ini dengan meminta maaf jika ada yang kurang berkenan. Ini kisah temanku. Tapi… aku akan membahasakannya dengan kata "aku".

    Kini usiaku udah semakin matang. Dalam masyarakatku umurku sudah dianggap sangat senior bagi wanita yang belum menikah sepertiku. Pun dalam keluarga besarku. Tak ada diantara mereka yang seusiaku tapi masih lajang. 

    Hatiku tiba-tiba menjadi tak menentu ketika ada teman yang mengirim undangan pernikahan. Kadang air mata menetes membaca undangan adik kelas yang jauh di bawahku usiaku. Tak ada orang yang mengetahui itu memang. Aku mencoba tegar. Sabar. Kuyakin Allah cinta hambaNya yang sabar. 

    “Nita, kapan nich undangannya?” pertanyaan itu kadang membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Aku tak bisa menjawab. Tapi aku tak mau itu berlangsung lama. Alhamdulillah setelah beberapa detik aku bisa tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan seperti itu. 

    Aku kadang bertanya, kenapa tak ada lagi ikhwan yang mengajukan ta’aruf kepadaku. Mungkin ini cobaan buatku. Kalau benar… aku ingin pahala kesabaran menjadi milikku hingga Allah mempertemukanku dengan jodohku. Aku sangat berharap ini adalah ujian seperti yang dikatakan Nabi bahwa ujian seseorang berbanding dengan tingkat keimanannya. 

    Tapi akhwat juga manusia kan? Ketika malam tiba, bisa saja ia bersedih walau siangnya terlihat sangat aktif dalam dakwah. Dalam kesendirian di atas sajadah, aku kadang berfikir tentang hadits Nabi dan menghubung-hubungkannya dengan penolakanku terhadap seorang ikhwan. Satu-satunya ikhwan yang pernah “melamarku”. 

    “Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah]. 

    Ikhwan yang datang itu, aku sebenarnya tahu siapa dia. Karena dia waktu itu aktif di lembaga dakwah di kampusku. Aku tahu dia laki-laki yang shalih. Tetapi entah kenapa, waktu itu aku menolaknya. Alasan wajah? Bukan. Aku bukan wanita seperti itu. Kekayaan? Juga bukan. Aku sadar pasangan muda hampir selalu memulai dari nol. Ilmu? Enggak juga. Dia ikhwan yang cukup pintar. Agamanya? Shalih kok. Lalu apa? Aku sendiri sulit menjelaskannya. Yang pasti waktu itu aku belum siap menikah dengannya. Mungkin juga karena waktu itu aku terlalu idealis, tidak mau menikah dengan ikhwan dari kampus yang sama. Entahlah. 

    Aku jadi “takut” sendiri membaca hadits itu. Apakah karena kumenolak tanpa alasan yang jelas terhadap laki-laki shalih sepertinya sehingga sampai saat ini aku tak juga menikah? Kalau demikian halnya, aku memohon ampun padaMu ya Allah… [Atik Purnama, © bersamadakwah]

    Islamedia.co 
    Senin, 28 April 2014
    Posted by Unknown
    0 Comments

    Saudaraku Kenapa Harus Menangis???

    ►


    Saudaraku…Kenapa harus menangis?? 

    Bukankah jalan ini yang telah kau pilih, yang kau katakan akan kau lalui walaupun akan ada ujian, rintangan dan cobaan di dalamnya....jangan ada air mata...kalau kau hanya ingin menangisi kekalahanmu! seberapa besar semangat yang telah kau siapkan untuk terus menuju baris terdepan di jalan da'wah ini..padahal perjalanan ini masih begitu jauh dan tidak membutuhkan jiwa-jiwa lemah yang mudah menyerah... 

    saudaraku…kenapa harus menangis?? 

    Kau bukanlah mujahid yang lemah...yang sering mengeluh dan mudah kecewa dengan apa yg terjadi...bukankah inilah tabiat jalan dakwah?? Yang akan selalu dilanda ghibah dan fitnah?? Kau masih ingat ketika Muhammad bin Abdullah Rasul kita yang mulia ketika difitnah sebagai tukang sihir?? Apakah kau juga masih ingat dengan Aisyah ra yang difitnah telah berzina?? Apakah juga kau masih ingat penderitaan para sahabat dijalan dakwah ini?? Lalu kenapa masih menangis??? Saat fitnah menderu wajah dakwah hari ini, bukankah fitnah-fitnah yang menerjang dakwah kita dahulu jauh lebih tragis dan menyakitkan?? Tidakkah kita malu untuk mengeluh, menangis, bahkan hengkang dari barisan ini, hanya karena fitnah dan tuduhan keji?? 

    Saudaraku…kenapa harus menangis?? 

    Bukankah kita ingin membangun bangunan dakwah yang tinggi dan kokoh? Dan bukankah jika semakin tinggi akan semakin banyak pula yang melihat dan memperhatikan bahkan berniat untuk menghancurkan? Lalu kenapa harus menangis? Jika banyak pihak luar yang berusaha merobohkannya, tidakkah sebaiknya kita berada di garda terdepan untuk menghalau semua makar yang ingin merobohkan bangunan dakwah kita?? Apakah kau menyesal telah membangun bangunan dakwah yang semakin tinggi dan megah?? Apakah kau menyesal jika hari ini bangunan dakwah kita telah terbuka dan nampak jelas karena ia semakin besar dan tinggi dan semua orang bisa melihat bahkan bisa masuk kedalamnya?? Apakah kau hanya ingin membangun pondasi saja untuk dakwah ini? Dimana pondasi takan ada yang melihat?? Lalu dimana manfaat dakwah? Dimana konsep rahmatan lil ‘alamin, jika hanya membangun pondasi tanpa membangun rumah dakwahnya. Bagaimana obyek dakwah bisa masuk kedalam rumah dakwah ini, jika hanya pondasi tanpa bangunannya? Bukankah yang kita inginkan adalah sebanyak mungkin orang bisa masuk kedalam rumah dakwah kita?? Apakah kau ingin sholeh sendiri Saudaraku…?? jika kau ingin sholeh sendiri, kau ibarat bunga yang mekar namun tak menebar keharumannya…percuma! 

    Saudaraku…kenapa harus menangis?? 

    Jika ada penghuni rumah dakwah ini harus keluar? Bukankah sebaiknya kau bersyukur, karena kau masih Allah tetapkan untuk tetap bersama dalam rumah dakwah ini?? Bukankah sebaiknya kau bersyukur, pergi satu datang seribu?? Bukankah engkau juga tahu, sejak panji dakwah ini dikibarkan pada zaman Rasulullah tercinta, banyak yang hengkang dan membangkang serta banyak para pembawa berita dusta? Adalah Ubaidillah bin Jahsy. Kader generasi awal yang menyempal. Bukan kader biasa, ia hidup di bawah dakwah Rasulullah. Bertemu langsung dengan penutup para Nabi. Mendapatkan ajaran dari beliau. Bahkan merasakan pahit getirnya mempertahankan Islam di Makkah, bahkan berpisah dari tanah air menuju negeri seberang. Murtad!!Adalah Abdullah bin Ubay yang gemar membawa berita dusta pada kaum Muslimin, yang sering mempengaruhi keyakinan jama’ah muslimin. Adalah Ustadz Ahmad As-Sukari sang masaikh dakwah di zaman ini yang juga hengkang pada zaman imam syahid Hasan Al-Banna. Bukankah mereka orang-orang hebat saudaraku??? Mereka berguguran seperti ranting yang jatuh dari pohonnya yang besar. Musuh-musuh dakwah ini mengira, dengan mengambil salah satu ranting yang jatuh, akan merobohkan pohonny yang besar. Namun yang terjadi adalah, ranting itu semakin kering tanpa ruh kehidupan, sedangkan pohon dakwah ini terus tumbuh semakin tinggi dan besar. 

    Saudaraku…kenapa harus menangis?? 

    Jika jalan ini terlalu sukar, jika beban ini terlalu berat. Memang begitulah dakwah! Kau berharap semua berjalan dengan tenang, senang, tanpa gangguan, tanpa cercaan, tanpa makar, tanpa fitnah…?? saudaraku..kau ibarat mengharapkan kehadiran rembulan di tengah siang..mustahil! 

    Kenapa harus menangis?? 

    Jika kini wajah dahwah kita seolah tertampar dengan berbagai isu yang terus berkembang dan memojokkan dakwah kita.. jika kini, keluarga dan masyarakat dilingkungan kita ikut terbawa arus media yang tak henti mengabarkan berita dusta. Tak perlu kau menangis dan kecewa, Karena mereka tak faham sama sekali saudaraku, mereka hanya mendengar dan wajar mereka percaya, karena mereka tak memiliki kematangan fikroh, kekuatan ruhiyah, kelapangan ukhuwah, sedangkan kau?? Bagaimana mungkin engkau menangis karena berita dusta yang melanda dakwah yang tersebar lewat media? Dimana nilai-nilai tarbiyah selama ini kau letakkan, jika kabar media begitu kau percaya dari pada saudaramu sendiri? Lalu apa bedanya kau dengan masyarakat yang tak tertarbiyah. Wajar mereka terbawa media tapi kau??? Bukankah seharusnya ini akan menambah keyakinanmu akan kebenaran jalan ini, yang takan pernah sepi dari gangguan dan cobaan? 

    Kenapa harus menangis saudaraku… 

    Kalau ternyata masih tersisa banyak harapan untuk meraih kemenangan abadi kelak…masih banyak ladang amal kebaikan yang terhampar dibuminya yang indah.. masih banyak jiwa-jiwa perkasa yang tak henti meneriakan kalimatullah..masih banyak jiwa-jiwa perindu ar-Royan yang tetap ikhlas beramal di kafilah dakwah, masih banyak saudara-saudara kita disini yang terus berbuat dengan keikhlasannya untuk ummat.. masih banyak saudara-saudara kita yang berlomba meringankan beban ummat di area bencana, bahkan mereka ikhlas membantu meringankan beban ummat sampai fukushima..tetaplah menjadi bagian dari dakwah ini saudaraku…jika mereka ada salah, itulah membuktikan mereka manusia bukan malaikat tanpa salah dan dosa..apakah kau seperti malaikat tanpa khilaf??? 

    Jangan menangis saudaraku… 

    Mari kembali kita satukan langkah, kita kuatkan tekad, kita kepalkan tangan dan kita teriakkan takbir sekencang-kencangnya, agar bergetar sealam raya, agar bergetar jiwa-jiwa mukmin karena asma-Nya, agar bergetar musuh-musuh dakwah ini karena ketakutannya…mari kita kumpulkan energI, kita genggam tangan kanan kita, kita bakar semangat kita dalam dada, kita gentarkan musuh-musuh kita dan kita takbir bersama sekeras-kerasnya..ALLAHU AKBAR…………!!!! 

    “tangan bergenggam tangan… 

    Saksikanlah janji kami… 

    Untuk teguh dalam barisan… 

    Untuk maju atau hancur bersama…” 
    Abu Rafah

    Sumber : islamedia.co
    Posted by Unknown
    0 Comments

    Buanglah Pacar Pada Tempatnya

    ►


    Ngeri ngeri ngeri! Indonesia dibuat geger dengan ulah dua sejoli yang jadi partner in crime dalam modus pembunuhan sang mantan. AS, dibunuh oleh H en S, dengan cara disetrum, tenggorokannya disumpel kertas, kemudian dibuang di pinggir tol. Ya Allah! 0,o

    Ternyata penyebabnya pun juga cuma karena masalah sepele: cemburu sama si mantan. Ih, kan nggak banget, ya? Sudahlah mendekati zina (pacaran), sampai tega menghilangkan nyawa orang lain pula!

    Tapi selalu ada pelajaran dari tiap kejadian yang berseliweran. Khususnya buat kita para remaja, dari kasus AHS di atas. Ini diaaa!

    1. Pacaran gak ada gunanya
     
    Ih, S en H kan kasuistik?

    Ah, masa, sih? Banyak kok yang pacaran ujung-ujungnya ke perzinahan. Padahal awalnya pasangan kalem. Saling ingetin buat sholat, belajar, kalo bulan puasa bahkan lebih kalem lagi. Tapi itu semua pastilah hanya ilusi belaka, Sob. Bukan apa-apa, soalnya Rasulullah sudah menjamin dalam salah satu hadits-nya:

    "Janganlah seorang pria berkhalwat (berduaan dengan wanita), kecuali wanita itu disertai mahram-nya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan" (HR Muslim)

    Nggak ada kan orang pacaran yang kemana-mana selalu bertiga, en orang ketiganya sahabat/saudara/yang lain? Males deeeh jadi kambing congek!

    Nah... kalau masih ada aja yang ngotot bahwa pacaran banyak manfaatnya *apalagi cewek, hati-hati deh, kalau sudah putus baru menyesal. Hiii!

    2. Cinta itu membangun

    "Cinta mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut." Quddamah

    Kan katanya motif si S ikutan tega membunuh si AS cuma karena takut si H balikan sama AS, ya? Si H juga tega ngebunuh AS karena dia *yang sudah berstatus mantan, sering jalan sama cowok lain.

    Nah ini... mesti banget kita patri dalam hati, bahwa yang namanya cinta itu pasti membangun si pelaku, bukan malah menjatuhkan. Saat benih cinta bersemayam di hati, kita pasti jadi lebih bergairah, semangat, berprestasi, dll yang baik-baik. Bukan malah bikin males, nggak produktif, cemburu setengah mati, tega nyetrum orang, dll yang jelek-jelek. Itu sih bukan cinta, tapi emosi belaka. Mereka akan tumbuh menjadi orang melankolis en kehidupannya nggak akan berkembang.

    3. Nggak ada Sayap Patah Karena Cinta

    Kasian si H. Dia menjadi gila karena cintanya pada si AS. Kalau kata pujangga, sayap cintanya patah! Hiks.

    Padahal seharusnya, kata Ustadz Anis Matta, "Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat."

    Jadi kalau kita ngaku sedang dilanda cinta, harusnya bukan kepada siapa sesuatu (cinta) itu kita berikan. Tapi apakah yang akan kita berikan? Dijamin, kalau begini prinsip yang kita pegang, nggak ada lagi deh ungkapab sayap patah karena cinta! Asiiik.

    Okesip... sekali lagi, pacaran itu nggak ada gunanya, Sob! Gak jelas juntrungannya. Mending juga simpan energi kita untuk membangun cinta dengan dia yang sudah halal nantinya. Insyaa Allah nggak ada lagi kejadian setrum mantan! *eh ^_^v

    Sumber : Islam Media
    Minggu, 27 April 2014
    Posted by Unknown
    0 Comments

    Hadist Online

    ►
    Sabtu, 19 April 2014
    Posted by Unknown
    0 Comments

    Al _ Qur'an Online

    ►
    Posted by Unknown
    0 Comments
    NEXT PREV HOME

    Popular Post

    Blogger templates

    Blog Archive

    • ▼  2014 (16)
      • ►  Agustus (2)
      • ▼  April (5)
        • Menyesal Kutolak Lamaran Laki-Laki Shalih Itu
        • Saudaraku Kenapa Harus Menangis???
        • Buanglah Pacar Pada Tempatnya
        • Hadist Online
        • Al _ Qur'an Online
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (8)

    Blogger news

    Untuk kritik dan saran bisa menghubungi kami di emali : "rohistelsa123@gmail.com"

    Blogroll

    About

    Rohis SMK Telkom Tunas harapan adalah Ekstrakurikuler yang baru dimulai WAJIB pada tahun ajaran 2013/2014 ini.
    Rohis SMK TTH sepenuhnya ada dalam pembinaan Bp. Tri Joko Mulyono. Selaku kesiswaan Di SMK TTH.

    - Copyright © Dakwah Telsa -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -